Fight or flight adalah respons fisiologis otomatis yang terjadi ketika tubuh mendeteksi ancaman atau bahaya. Dalam hitungan detik, tubuh mempersiapkan diri untuk dua pilihan: melawan ancaman tersebut atau melarikan diri darinya. Respons ini dikendalikan oleh sistem saraf simpatis dan merupakan salah satu mekanisme bertahan hidup paling primitif yang dimiliki manusia.
Ketika respons ini aktif, serangkaian perubahan terjadi serentak di seluruh tubuh: jantung berdetak lebih cepat untuk memompa lebih banyak darah ke otot, pernapasan menjadi lebih cepat untuk memasok oksigen ekstra, pupil melebar untuk memperluas bidang pandang, dan aliran darah dialihkan dari organ pencernaan ke otot-otot besar. Salah satu tanda paling terlihat adalah piloereksi atau bulu kuduk yang berdiri, warisan dari leluhur berbulu yang membutuhkan tubuh tampak lebih besar saat menghadapi ancaman.
Pemicu fight or flight tidak terbatas pada ancaman fisik nyata. Otak modern manusia juga mengaktifkan respons yang sama terhadap ancaman psikologis seperti presentasi di depan umum, konflik sosial, atau tenggat waktu pekerjaan. Ini yang menjelaskan kenapa tangan bisa gemetar, suara bergetar, atau perut terasa mual saat gugup meski tidak ada bahaya nyata di depan mata.
Respons ini dipicu oleh pelepasan hormon adrenalin dan noradrenalin dari kelenjar adrenal. Dalam situasi bahaya sesungguhnya, hormon-hormon ini bisa meningkatkan kemampuan fisik secara luar biasa, menjelaskan fenomena seperti ibu yang mampu mengangkat mobil untuk menyelamatkan anaknya yang terjepit.
Kebalikan dari fight or flight adalah respons sistem saraf parasimpatis, yang bekerja memulihkan tubuh ke kondisi istirahat setelah ancaman berlalu. Ketidakseimbangan antara keduanya akibat stres kronis dapat berdampak serius pada kesehatan jangka panjang.