Pernahkah kamu bertemu seseorang yang sangat yakin dengan pendapatnya, padahal jelas-jelas keliru? Menariknya, orang seperti ini sering terlihat paling percaya diri, seolah tak ada keraguan sedikit pun dalam pikirannya. Fenomena ini bukan sekadar soal keras kepala, melainkan berkaitan erat dengan cara kerja otak manusia.
Keyakinan yang Salah Bukan Sekadar Keras Kepala
Dalam dunia otak & psikologi, kondisi seperti ini sering dikaitkan dengan berbagai bias kognitif yang memengaruhi cara seseorang menilai informasi, dirinya sendiri, dan orang lain. Otak tidak selalu bekerja secara rasional, terutama ketika harus menilai kemampuan pribadi.
Salah satu bias yang paling sering muncul adalah kecenderungan manusia untuk melebih-lebihkan pengetahuannya sendiri. Ketika seseorang hanya memiliki sedikit informasi tentang suatu topik, ia justru lebih mudah merasa sudah memahami semuanya.
Efek Dunning-Kruger dan Rasa Percaya Diri Berlebihan
Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai efek Dunning-Kruger. Efek ini menjelaskan mengapa orang dengan kemampuan rendah sering kali memiliki rasa percaya diri yang tinggi, sementara mereka yang kompeten justru lebih sering meragukan diri sendiri.
Efek ini terjadi karena keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan sesuatu dengan baik ternyata sama dengan keterampilan untuk menilai apakah seseorang sudah melakukannya dengan benar. Akibatnya, orang yang kurang paham tidak memiliki “alat mental” untuk menyadari kesalahan mereka sendiri.
Peran Emosi dalam Mempertahankan Keyakinan
Selain keterbatasan pengetahuan, faktor emosional juga berperan besar. Mengakui kesalahan bisa terasa mengancam harga diri, sehingga otak secara tidak sadar mencari pembenaran. Informasi yang bertentangan sering diabaikan, sementara pendapat yang mendukung keyakinan lama justru diperkuat.
Inilah sebabnya mengapa perdebatan sering kali tidak berujung pada perubahan pandangan. Bukan karena kurangnya fakta, melainkan karena otak sudah terlanjur membangun keyakinan yang terasa nyaman dan aman.
Belajar Lebih Rendah Hati dalam Berpikir
Memahami mekanisme ini bukan untuk merendahkan orang lain, tetapi sebagai pengingat bagi diri sendiri. Dengan menyadari adanya bias dan keterbatasan dalam berpikir, kita bisa menjadi lebih terbuka, lebih kritis, dan lebih bijak dalam menilai apakah keyakinan kita benar-benar tepat.