Fenomena Ketindihan: Otak Terjaga Tapi Tubuh Tak Bisa Bergerak

Pernah terbangun di tengah malam dengan mata terbuka tapi tubuh sama sekali tidak bisa bergerak? Bahkan terasa ada tekanan di dada atau sosok gelap di sekitar kamar. Pengalaman menyeramkan ini dikenal sebagai sleep paralysis, atau di Indonesia sering disebut ketindihan.

Apa Itu Sleep Paralysis?

Sleep paralysis adalah kondisi sementara ketika seseorang sadar penuh, tetapi tidak bisa bergerak atau berbicara. Ini terjadi karena ketidaksinkronan antara kesadaran dan kelumpuhan otot alami saat tidur fase REM.

Dalam tidur REM, otak memang sengaja melumpuhkan otot tubuh (REM atonia) agar kita tidak bergerak mengikuti mimpi. Masalah muncul ketika otak sudah bangun, tetapi tubuh belum.

Jenis Sleep Paralysis

Hypnagogic terjadi saat akan tertidur, ketika tubuh lumpuh lebih dulu sebelum kesadaran hilang.

Hypnopompic terjadi saat terbangun, kesadaran sudah aktif tetapi tubuh masih terkunci. Ini yang paling sering dialami.

Mengapa Disertai Halusinasi?

Saat sleep paralysis, otak masih berada di antara mimpi dan bangun. Akibatnya, elemen mimpi bercampur dengan realitas kamar yang terlihat.

Halusinasi yang umum meliputi:

- Merasa ada sosok atau kehadiran di ruangan

- Tekanan berat di dada atau sulit bernapas

- Sensasi melayang atau tubuh terangkat

Karena amygdala (pusat rasa takut) sangat aktif, semua sensasi ini terasa sangat nyata dan menakutkan.

Siapa yang Lebih Berisiko?

Sleep paralysis lebih sering dialami oleh remaja dan dewasa muda, orang dengan pola tidur tidak teratur, sering begadang, stres tinggi, gangguan kecemasan, atau tidur dalam posisi telentang.

Apakah Berbahaya?

Secara medis, sleep paralysis tidak berbahaya dan tidak menyebabkan kematian atau gangguan fisik. Namun, jika terjadi sering, bisa memicu kecemasan dan ketakutan untuk tidur.

Cara Mengatasinya Saat Terjadi

Cobalah tetap tenang, fokus pada napas, dan gerakkan bagian tubuh kecil seperti jari tangan atau kaki. Biasanya episode akan segera berakhir.

Cara Mencegah

Tidur cukup dan teratur, kelola stres, hindari tidur telentang, dan ciptakan lingkungan tidur yang nyaman dapat mengurangi risiko sleep paralysis.

Kesimpulan

Ketindihan bukan gangguan mistis, melainkan fenomena ilmiah akibat ketidaksinkronan antara otak dan tubuh saat tidur. Meski terasa sangat menakutkan, kondisi ini bersifat sementara dan tidak berbahaya.

Lebih baru Lebih lama