Trisomi 21 adalah kondisi genetik di mana seseorang lahir dengan tiga salinan kromosom 21, bukan dua seperti yang normal. Kromosom ekstra inilah yang menyebabkan Down sindrom, salah satu kondisi kromosomal paling umum pada manusia dengan angka kejadian sekitar satu dari setiap 700 hingga 800 kelahiran hidup di seluruh dunia.
Kromosom 21 adalah kromosom terkecil dalam tubuh manusia, namun ia membawa sekitar 200 hingga 300 gen yang aktif. Ketika satu salinan ekstra dari kromosom ini hadir, ekspresi ratusan gen ikut berubah secara bersamaan. Perubahan dosis gen yang konsisten inilah yang menghasilkan pola ciri fisik dan perkembangan yang serupa pada semua individu dengan Trisomi 21, terlepas dari ras, latar belakang etnis, atau lokasi geografis mereka.
Penyebab utama Trisomi 21 adalah kesalahan dalam proses pembelahan sel yang disebut nondisjunction. Normalnya, pasangan kromosom memisah dengan rapi saat sel telur atau sperma terbentuk. Pada nondisjunction, kromosom 21 gagal memisah sehingga satu sel reproduksi membawa dua salinan kromosom 21 alih-alih satu. Ketika sel ini bergabung dengan sel reproduksi normal yang membawa satu salinan, hasilnya adalah embrio dengan total tiga kromosom 21. Risiko terjadinya nondisjunction meningkat seiring bertambahnya usia ibu, meskipun sebagian besar kasus tetap terjadi pada ibu di bawah usia 35 tahun karena kelompok usia ini melahirkan jauh lebih banyak secara keseluruhan.
Gen-gen di kromosom 21 yang mengalami overdosis ekspresi memengaruhi berbagai sistem tubuh secara bersamaan. Perkembangan wajah, tonus otot, fungsi jantung, dan perkembangan kognitif semuanya dipengaruhi oleh perubahan dosis gen ini. Itulah mengapa Trisomi 21 bukan sekadar kondisi yang memengaruhi satu organ atau sistem, melainkan kondisi sistemik yang menyentuh banyak aspek biologis sekaligus.
Pemahaman tentang Trisomi 21 terus berkembang pesat. Penelitian modern kini menunjukkan bahwa variasi dalam ekspresi gen di antara individu dengan Trisomi 21 cukup signifikan, artinya tidak ada dua orang dengan Down sindrom yang persis sama. Perbedaan lingkungan, stimulasi dini, dan faktor epigenetik semuanya berperan dalam menentukan seberapa jauh potensi setiap individu bisa berkembang.
|
Biologi & Tubuh Manusia
Kenapa Orang dengan Down Sindrom Punya Wajah yang Mirip Satu Sama Lain?
|
|
|
Biologi & Tubuh Manusia
Penyebab Manusia Merinding: Piloereksi dan Respons Tubuh
|
Biologi & Tubuh Manusia
Bagaimana Lalat Bisa "Tahu" Ada Kematian dalam Hitungan Menit?
|