Pernah ngalamin situasi ini? Perut sudah mules, jalan ke toilet sambil nahan, tapi begitu duduk… rasanya malah hilang. Padahal tadi rasanya sudah darurat. Fenomena ini ternyata bukan hal aneh dan ada penjelasan ilmiahnya.
Peran Otak dalam Rasa Ingin BAB
Rasa ingin buang air besar sebenarnya bukan cuma urusan usus, tapi juga melibatkan otak. Saat feses menekan dinding rektum, saraf mengirim sinyal ke otak bahwa tubuh perlu ke toilet.
Namun otak punya kendali akhir. Ia bisa “menunda” atau bahkan melemahkan sinyal tersebut, tergantung kondisi tubuh dan mental.
Efek Perubahan Posisi Tubuh
Ketika berdiri atau berjalan, tekanan pada rektum bisa terasa lebih kuat. Begitu duduk, sudut usus berubah dan tekanan bisa berkurang sementara.
Akibatnya, sinyal mendesak yang tadi terasa kuat jadi melemah, membuat sensasi ingin BAB terasa menghilang.
Faktor Psikologis yang Ikut Campur
Stres ringan, rasa tidak nyaman dengan toilet tertentu, atau terlalu fokus “harus keluar sekarang” justru bisa mengganggu kerja saraf pencernaan.
Alih-alih rileks, otot-otot malah menegang. Ini bikin proses alami tubuh jadi tertunda.
Refleks Tubuh yang Tidak Selalu Sinkron
Sistem pencernaan bekerja dengan refleks, tapi refleks ini tidak selalu langsung aktif saat kita mau. Kadang tubuh butuh waktu, atau menunggu kondisi yang benar-benar santai.
Makanya, sensasi ingin BAB bisa datang dan pergi tanpa pola yang jelas.
Apakah Ini Berbahaya?
Dalam kondisi normal, ini tidak berbahaya. Tapi jika sering terjadi disertai sembelit, nyeri, atau harus mengejan keras, bisa jadi tanda pola BAB yang kurang sehat.
Kurang serat, kurang minum, dan kebiasaan menahan BAB terlalu sering bisa memperparah kondisi ini.
Kesimpulan
Rasa kebelet BAB yang tiba-tiba “ambyar” saat duduk di toilet adalah hasil kerja sama kompleks antara usus, saraf, posisi tubuh, dan kondisi mental.
Jadi, kalau kejadian ini menimpamu, tenang saja. Tubuhmu tidak rusak—ia hanya sedang mengatur ulang ritmenya.
