Kenapa Banyak Orang Merasa Hidup Orang Lain Lebih Baik dari Hidupnya Sendiri?


Pernahkah kamu merasa hidup orang lain selalu tampak lebih baik, lebih bahagia, dan lebih sukses dibanding hidupmu sendiri? Saat membuka media sosial, kita melihat orang liburan, pamer pencapaian, hubungan harmonis, dan senyum yang seolah tak pernah hilang. Sementara itu, hidup kita terasa biasa saja, penuh masalah, dan jauh dari kata sempurna. Fenomena ini ternyata sangat umum dan memiliki penjelasan psikologis yang kuat.

Otak Manusia Suka Membandingkan

Secara alami, otak manusia dirancang untuk membandingkan. Dulu, kemampuan ini membantu manusia bertahan hidup dengan menilai posisi sosial, ancaman, dan peluang. Namun di era modern, mekanisme ini sering bekerja berlebihan. Kita tidak lagi membandingkan diri dengan lingkungan kecil, melainkan dengan ratusan bahkan ribuan orang dari seluruh dunia.

Masalahnya, perbandingan ini jarang adil. Kita membandingkan kehidupan nyata kita yang penuh detail dengan versi terbaik kehidupan orang lain yang ditampilkan ke publik.

Ilusi Media Sosial

Media sosial adalah faktor terbesar yang membuat hidup orang lain tampak lebih bahagia. Apa yang kita lihat di layar bukanlah kehidupan utuh, melainkan potongan momen terbaik yang telah dipilih, diedit, dan disaring.

Orang jarang memposting kegagalan, pertengkaran, kecemasan, atau kesedihan. Yang muncul justru momen liburan, prestasi, hadiah, dan kebahagiaan singkat. Akibatnya, otak kita tertipu dan menganggap kebahagiaan itu berlangsung terus-menerus.

Padahal, di balik unggahan tersebut, setiap orang tetap menghadapi masalah, tekanan, dan rasa lelah yang tidak terlihat.

Bias Kognitif yang Menjebak Pikiran

Psikologi mengenal beberapa bias kognitif yang memperkuat perasaan ini. Salah satunya adalah social comparison bias, yaitu kecenderungan menilai diri sendiri berdasarkan orang lain.

Ada juga availability bias, di mana otak menganggap sesuatu yang sering terlihat sebagai hal yang umum. Karena kita sering melihat kehidupan “bahagia” di media sosial, otak mengira semua orang hidup seperti itu.

Ditambah lagi dengan negativity bias, yaitu kecenderungan otak untuk lebih fokus pada kekurangan diri sendiri dibanding kelebihan.

Mengapa Hidup Sendiri Terasa Lebih Berat?

Hidup sendiri terasa lebih berat karena kita mengalaminya secara utuh. Kita tahu semua kecemasan, kesalahan, kegagalan kecil, dan pikiran negatif yang tidak diketahui orang lain.

Sebaliknya, kehidupan orang lain kita lihat dari luar, tanpa mengetahui konflik batin, tekanan ekonomi, masalah keluarga, atau rasa takut yang mereka sembunyikan.

Ini menciptakan ilusi bahwa hanya kita yang berjuang, sementara orang lain hidup lebih mudah.

Standar Bahagia yang Tidak Realistis

Banyak orang tanpa sadar mengadopsi standar bahagia yang tidak realistis. Bahagia dianggap harus selalu senang, sukses, produktif, dan bebas masalah. Padahal dalam realitas, kebahagiaan bersifat naik turun.

Orang yang terlihat bahagia pun tetap bisa merasa kosong, cemas, atau lelah secara mental. Kebahagiaan bukan kondisi permanen, melainkan pengalaman sementara.

Peran Lingkungan dan Tekanan Sosial

Tekanan sosial juga berperan besar. Masyarakat sering mengukur kesuksesan dari pencapaian tertentu: pekerjaan, uang, hubungan, atau gaya hidup. Ketika hidup kita tidak sesuai dengan standar itu, muncul rasa tertinggal.

Padahal setiap orang berjalan di jalur waktu yang berbeda. Apa yang terlambat bagi satu orang bisa jadi tepat bagi orang lain.

Kenapa Perasaan Ini Sulit Dihentikan?

Perasaan hidup orang lain lebih baik sulit dihentikan karena otak terus mencari validasi dan pembanding. Setiap kali membuka media sosial, siklus perbandingan itu terulang.

Tanpa disadari, kita menilai harga diri berdasarkan pencapaian orang lain, bukan berdasarkan perkembangan diri sendiri.

Apakah Ini Berarti Kita Kurang Bersyukur?

Tidak selalu. Merasa hidup orang lain lebih baik bukan berarti seseorang tidak bersyukur. Ini lebih sering merupakan respons alami otak terhadap informasi yang berlebihan dan tidak seimbang.

Namun jika dibiarkan terus-menerus, perasaan ini bisa menurunkan kepercayaan diri dan kepuasan hidup.

Cara Pandang yang Lebih Sehat

Memahami bahwa apa yang kita lihat hanyalah potongan realitas adalah langkah pertama. Setiap orang memiliki perjuangan yang tidak dipamerkan.

Mengalihkan fokus dari perbandingan ke perkembangan diri sendiri juga membantu. Hidup tidak harus lebih baik dari orang lain, cukup lebih baik dari versi diri kita di masa lalu.

Kesimpulan

Perasaan bahwa hidup orang lain lebih baik adalah ilusi psikologis yang diperkuat oleh cara otak bekerja dan pengaruh media sosial. Kita melihat kebahagiaan orang lain dari luar, sementara merasakan hidup sendiri dari dalam.

Ketika kita menyadari bahwa setiap kehidupan memiliki sisi yang tidak terlihat, perbandingan itu perlahan kehilangan kekuatannya. Hidup mungkin tidak sempurna, tetapi tetap layak dijalani tanpa harus selalu dibandingkan.

Lebih baru Lebih lama