Pernahkah kamu merasa waktu berjalan sangat lambat saat sedang menunggu sesuatu yang membosankan, tapi sebaliknya terasa sangat cepat saat sedang bersenang-senang? Fenomena ini bukan hanya perasaanmu saja, loh! Ada penjelasan ilmiah di baliknya yang berkaitan dengan cara kerja otak kita dalam memproses waktu.
Otak Kita Tidak Punya "Jam" yang Sempurna
Berbeda dengan jam dinding yang mengukur waktu secara objektif, otak manusia tidak memiliki organ khusus untuk mengukur waktu secara akurat. Persepsi waktu kita sebenarnya adalah hasil dari berbagai proses kognitif yang kompleks di dalam otak, terutama di area prefrontal cortex dan basal ganglia.
Cara kita merasakan berjalannya waktu sangat dipengaruhi oleh tingkat perhatian, emosi, dan pengalaman yang kita alami pada saat itu. Inilah mengapa waktu bisa terasa "elastis" tergantung situasinya.
Saat Bosan: Perhatian Penuh pada Waktu Itu Sendiri
Ketika kamu merasa bosan, otak kamu tidak mendapatkan stimulasi yang cukup dari lingkungan sekitar. Akibatnya, perhatianmu justru tertuju pada berlalunya waktu itu sendiri. Kamu jadi lebih sering melihat jam, menghitung menit, dan menunggu kapan aktivitas membosankan itu akan berakhir.
Dalam kondisi ini, otak memproses setiap detik dengan lebih "sadar" karena tidak ada hal menarik lain yang mengalihkan perhatian. Semakin banyak perhatian yang kamu berikan pada waktu, semakin lambat waktu terasa berlalu. Ini seperti fenomena "watched pot never boils" - panci yang terus diperhatikan terasa lama sekali mendidih.
Saat Senang: Tenggelam dalam Momen
Sebaliknya, saat kamu sedang melakukan aktivitas yang menyenangkan atau menarik, perhatianmu sepenuhnya tercurah pada aktivitas tersebut, bukan pada waktu. Otak sibuk memproses informasi yang datang dari pengalaman menyenangkan itu, sehingga kamu "lupa" memantau berjalannya waktu.
Kondisi ini sering disebut sebagai "flow state" atau kondisi ketika kamu benar-benar tenggelam dalam suatu aktivitas. Dalam kondisi flow, kesadaran akan waktu hampir menghilang sama sekali. Makanya, kamu bisa terkejut saat menyadari sudah berjam-jam berlalu padahal rasanya baru beberapa menit.
Peran Dopamin dan Emosi
Neurotransmitter dopamin juga memainkan peran penting dalam persepsi waktu. Saat kita melakukan aktivitas yang menyenangkan, otak melepaskan dopamin yang membuat kita merasa bahagia dan termotivasi. Peningkatan dopamin ini ternyata mempengaruhi "internal clock" kita, membuat waktu terasa berjalan lebih cepat.
Sebaliknya, dalam kondisi bosan atau cemas, kadar dopamin rendah dan otak menjadi lebih sensitif terhadap berlalunya waktu. Emosi negatif juga membuat kita lebih waspada terhadap lingkungan, termasuk terhadap waktu yang berlalu.
Memori Juga Mempengaruhi Persepsi Waktu
Yang menarik, cara kita mengingat waktu juga berbeda dengan cara kita merasakannya saat itu terjadi. Pengalaman yang membosankan cenderung tidak meninggalkan banyak memori, sehingga saat diingat kembali, periode waktu itu terasa singkat. Sebaliknya, pengalaman menyenangkan yang penuh dengan momen-momen berkesan akan membuat periode waktu itu terasa lebih panjang saat diingat kembali.
Itulah mengapa liburan seminggu yang menyenangkan bisa terasa sangat cepat berlalu saat sedang dijalani, tapi saat diingat kembali, terasa seperti pengalaman yang panjang dan penuh kenangan.
Kesimpulan
Persepsi waktu yang berbeda saat bosan dan saat senang adalah hasil dari cara otak memproses perhatian, emosi, dan memori. Saat bosan, kita terlalu sadar akan waktu sehingga terasa lambat. Saat senang, kita tenggelam dalam aktivitas sehingga waktu terasa terbang.
Jadi, kalau kamu ingin waktu "berjalan lebih cepat" saat melakukan sesuatu yang membosankan, cobalah untuk mengalihkan perhatianmu dari jam dan fokus pada hal lain yang lebih menarik. Dan sebaliknya, kalau ingin menikmati momen bahagia lebih lama, cobalah untuk lebih mindful dan hadir di setiap detiknya!
