Bayangkan kamu sedang duduk santai di teras rumah pada siang hari yang terik, lalu tiba-tiba melihat langit seolah terbakar. Sebuah garis cahaya memanjang secara horizontal dengan warna merah, oranye, kuning, hijau, dan biru yang menyala jauh lebih terang dari pelangi biasa. Bukan di ufuk barat saat matahari terbenam. Bukan setelah hujan. Tapi di langit biru bersih, siang bolong, tepat di atas kepala. Itulah yang dialami warga Batam dan Palangkaraya pada 2019 — dan foto-fotonya langsung viral di media sosial.
Bukan Pelangi Biasa, Bukan Juga Api
Julukan "pelangi api" memang dramatis, tapi sebenarnya tidak tepat secara ilmiah. Fenomena ini tidak ada hubungannya dengan api, dan secara teknis juga bukan pelangi dalam arti yang sebenarnya. Dalam meteorologi optik, fenomena ini dikenal sebagai circumhorizontal arc (CHA), bagian dari keluarga besar atmospheric halo yang terbentuk dari interaksi cahaya matahari dengan kristal es di atmosfer.
Perbedaan paling mencolok dari pelangi konvensional terletak pada bentuk dan posisinya. Pelangi biasa berbentuk busur melengkung yang muncul saat hujan atau kabut, terbentuk dari pembiasan cahaya melalui tetesan air. Sementara circumhorizontal arc membentang horizontal dan selalu muncul jauh di bawah posisi matahari, bukan di arah berlawanan. Warnanya juga cenderung lebih jenuh dan mencolok karena mekanisme pembentukannya berbeda.
Bagaimana Circumhorizontal Arc Terbentuk?
Kunci dari fenomena ini ada pada awan cirrus, yaitu awan tipis yang melayang di ketinggian 6 sampai 12 kilometer. Awan jenis ini tersusun bukan dari tetesan air biasa, melainkan dari jutaan kristal es heksagonal yang sangat kecil dan tersusun secara horizontal. Ketika cahaya matahari masuk dari sisi kristal yang lebih lebar dan keluar dari sisi bawahnya, terjadi pembiasan yang memecah cahaya menjadi spektrum warna penuh.
Proses ini sebenarnya mirip dengan dispersi cahaya pada prisma kaca, di mana cahaya putih diurai menjadi komponen warna-warnanya karena setiap panjang gelombang dibiaskan pada sudut yang sedikit berbeda. Yang membuat CHA istimewa adalah presisi geometrisnya: fenomena ini hanya bisa terjadi ketika matahari berada di ketinggian lebih dari 58 derajat di atas cakrawala. Di bawah sudut itu, kondisi optik yang diperlukan tidak terpenuhi dan arc tidak akan terbentuk.
Karena syarat ketinggian matahari yang ketat itu, circumhorizontal arc jauh lebih umum terlihat di daerah beriklim tropis dan subtropis dibanding wilayah beriklim sedang atau kutub. Di negara-negara Eropa Utara misalnya, fenomena ini hampir tidak pernah terlihat karena matahari jarang mencapai ketinggian yang dibutuhkan. Indonesia, dengan posisinya di khatulistiwa, justru termasuk kawasan yang relatif sering mendapat kunjungan fenomena ini dibanding banyak negara lain.
Kenapa Warnanya Bisa Semenyala Itu?
Salah satu hal yang paling sering membuat orang terkagum adalah intensitas warna circumhorizontal arc yang terlihat sangat jenuh dan menyala. Ini bukan ilusi. Dibanding pelangi biasa yang terbentuk dari tetesan air bulat, kristal es heksagonal memiliki sudut pembiasan yang lebih presisi dan menghasilkan pemisahan warna yang lebih bersih. Hasilnya adalah pita warna yang tampak lebih tegas dan lebih kontras satu sama lain.
Efek ini juga diperkuat oleh fenomena Rayleigh scattering di atmosfer. Langit biru yang bersih di sekitar arc menciptakan kontras visual yang kuat, membuat warna-warna arc terlihat semakin mencolok dibanding jika langit sedang berawan. Kondisi cahaya matahari yang kuat di siang hari bolong juga berkontribusi pada kecerlangan warna yang tampak seperti "terbakar" itu.
Mitos, Pertanda Bencana, dan Apa Kata Sains
Setiap kali fenomena langit yang tidak biasa muncul, narasi mistis hampir selalu mengikuti. Kemunculannya di Batam dan Palangkaraya pada 2019 langsung memunculkan berbagai spekulasi: pertanda gempa, peringatan bencana, bahkan tanda kiamat. Ini bukan hal baru. Sepanjang sejarah manusia, fenomena optik atmosfer seperti halo matahari dan gerhana selalu memancing interpretasi supranatural dari masyarakat yang belum memiliki penjelasan ilmiahnya.
Secara psikologis, kecenderungan ini masuk akal. Otak manusia dirancang untuk mencari pola dan makna, terutama pada hal-hal yang tidak biasa dan tidak bisa langsung dijelaskan. Ditambah lagi, informasi viral lebih mudah dipercaya ketika sudah dibumbui narasi yang mengundang rasa takut atau keheranan. Begitu foto pelangi api menyebar dengan caption "pertanda bencana," algoritma media sosial membantu narasi itu menjangkau jutaan orang dalam hitungan jam.
Meteorologi optik tidak menemukan korelasi apa pun antara circumhorizontal arc dengan aktivitas seismik atau fenomena alam berbahaya lainnya. Arc ini terbentuk murni dari interaksi geometris antara cahaya matahari dan kristal es di ketinggian 6 sampai 12 kilometer, jauh dari permukaan bumi dan sama sekali tidak terhubung dengan dinamika tektonik di kerak bumi.
Seberapa Langka Sebenarnya?
Circumhorizontal arc sering disebut fenomena langka, tapi definisi "langka" ini perlu dikualifikasi. Di Indonesia dan kawasan tropis lainnya, fenomena ini sebenarnya bisa terjadi beberapa kali dalam setahun, asalkan kondisi yang diperlukan terpenuhi secara bersamaan: awan cirrus yang cukup tebal dengan kristal es yang tersusun horizontal, matahari di ketinggian lebih dari 58 derajat, dan langit yang cukup cerah di sekitarnya.
Yang membuatnya terasa langka adalah gabungan antara ketidaktahuan masyarakat tentang fenomena ini dan durasi penampakannya yang relatif singkat, biasanya hanya beberapa menit hingga paling lama sekitar satu jam. Banyak orang yang mungkin pernah melihatnya tapi tidak tahu apa yang sedang mereka lihat, sehingga tidak mendokumentasikannya. Di era media sosial seperti sekarang, setiap kemunculannya langsung terdokumentasi dan tersebar luas, memberikan kesan bahwa ia muncul lebih sering dari sebelumnya.
Circumhorizontal arc atau pelangi api adalah pertunjukan optik atmosfer yang megah, terbentuk dari pembiasan cahaya matahari melalui kristal es di awan cirrus dengan presisi geometris yang sangat ketat. Tidak ada hubungannya dengan bencana, pertanda alam, atau hal-hal mistis apapun. Indonesia, dengan posisinya di khatulistiwa, justru termasuk wilayah yang beruntung karena bisa menyaksikannya lebih sering dibanding banyak negara lain. Jadi kalau suatu hari kamu melihat garis warna-warni itu di langit siang, tidak perlu khawatir. Nikmati saja keindahan fisika optik yang sedang bekerja di atas kepala kamu.
