Earworm

Earworm adalah fenomena psikologis di mana sepenggal melodi atau lagu secara spontan muncul dan berputar berulang-ulang di dalam pikiran tanpa bisa dihentikan dengan mudah. Istilah ini merupakan terjemahan langsung dari kata Jerman Ohrwurm yang secara harfiah berarti cacing telinga. Dalam komunitas ilmiah, fenomena ini juga dikenal dengan nama involuntary musical imagery atau INMI, yaitu citra musik yang muncul tanpa disengaja. Hampir semua orang pernah mengalaminya, menjadikan earworm salah satu pengalaman kognitif paling universal yang dikenal manusia.

Penelitian menunjukkan bahwa earworm paling sering dipicu oleh paparan terhadap lagu tersebut baru-baru ini, situasi yang secara emosional atau kontekstual terhubung dengan lagu tertentu, atau bahkan hanya karena melihat kata atau gambar yang terasosiasi dengan lagu itu. Lagu-lagu yang paling sering menjadi earworm cenderung memiliki karakteristik tertentu, yaitu tempo yang lebih cepat dari rata-rata, melodi yang berulang dengan interval nada yang tidak biasa atau sedikit tidak terduga, dan struktur yang mudah diingat namun menyisakan sesuatu yang terasa belum selesai bagi otak.

Dari sudut pandang neurosains, earworm berkaitan erat dengan cara kerja korteks prefrontal dan sistem memori auditif di otak. Ketika kita mendengar musik, korteks auditori tidak hanya memproses suara yang masuk tetapi juga aktif memprediksi nada berikutnya berdasarkan pola yang sudah dipelajari. Earworm diduga terjadi ketika loop prediksi ini terus berjalan bahkan setelah musik berhenti, seolah otak terus mencoba menyelesaikan pola yang belum tuntas. Inilah mengapa lagu yang terpotong di tengah sering lebih mudah menjadi earworm dibandingkan lagu yang didengar sampai selesai.

Cara yang terbukti efektif untuk menghentikan earworm, berdasarkan penelitian psikologi, adalah dengan mendengarkan lagu tersebut sampai selesai agar otak mendapat resolusi yang dibutuhkan, atau mengalihkan perhatian dengan aktivitas kognitif yang cukup menantang seperti membaca atau mengerjakan teka-teki. Paradoksnya, berusaha keras untuk tidak memikirkan lagu tersebut justru sering memperparah kondisi, sebuah fenomena yang dikenal sebagai efek ironi atau white bear effect yang pertama kali dideskripsikan oleh psikolog Daniel Wegner.

Earworm juga berkaitan dengan kondisi emosional pengalaminya. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sedang bosan, lelah, atau dalam kondisi stres rendah lebih sering mengalami earworm dibandingkan mereka yang sedang sangat fokus atau sangat santai. Musisi dan mereka yang sering mendengarkan musik dilaporkan lebih sering mengalami earworm, kemungkinan karena memori auditif mereka lebih terlatih dan aktif. Fenomena ini, seperti halnya efek Mandela dan déjà vu, menunjukkan betapa aktif dan otonomnya pikiran manusia bahkan tanpa perintah sadar dari pemiliknya.